• About
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Pasang Iklan
  • Follow Info Blogger
Infospek
  • HOME
  • TUTORIAL
  • SEJARAH
  • BLOGGING ▼
    • Tulisan Lepas
    • Bisnis Online
    • Tips Blog
Home » TAHUKAH KAMU? » LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI
LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI

Dilihat sekilas dari nama desa, Cangkring Turi, kecamatan Prambon, memang tak menunjuk pada sebuah tempat yang tercatat sebagai pusat pada masa kuno. Hal itu karena toponim desanya berakar dari nama pepohonan yang dominan di sana, sebagaimana nama desa-desa di Sidoarjo kebanyakan. Namun, siapa sangka di sebuah punden desa terdapat sebuah benda purbakala, berupa lumpang batu dari zaman kuno. Meski belum terdeteksi kesejarahannya, tapi memiliki kebermaknaan menarik di desa tersebut.
Abdul Karim Darsono, kepala desa setempat menyatakan, sebagaimana nama desa Cangkring Turi, pedukuhannya pun terdiri dari dua, yaitu dusun Cangkring dan Turi. Asal-usul desa pun tak jauh beda dengan nama desannya. Dinamakan dusun Cangkring, karena di tempat itu dulu tumbuh banyak pohon cangkring. Begitu pula dusun Turi, karena di tempat itu dulu begitu banyak pohon Turi. "Desa Cangkring Turi itu gabungan di antara keduanya,” tegasnya.
Ia tidak tahu sejak kapan desa itu ada dan dinamakan demikian. Hanya saja, menurutnya, keberadaan desanya memang tidak bisa dilepaskan dari peran sing babat alas desa. Masing-masing dusun memiliki punden yang dianggap keramat warga. Punden dusun Cangkring bernama Mbah Wareng, sedangkan Punden dusun Turi namanya Mbah Rojo.
“Meski namanya Mbah Rojo tetapi beliau itu perempuan. Mbah Wareng laki-laki,” terang Abdul Karim.
Meski memiliki nama, tetapi jangan dibayangkan bahwa punden tersebut berupa makam. Punden itu berupa genengan di tengah sawah yang tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Saya pun berpikir sembilan kali untuk merambahnya karena motor saya kinyis-kinyis. Ehm ehm. Adapun ihwal asal-usul mereka, Abdul Karim tidak tahu menahu. Sejarahnya demikian kabur. “Pantesnya dulu dari mana begitu saja. Kami tidak tahu beliau dari Jenggala, Majapahit, Singasari atau Mataram,” tegas Abdul Karim.
Yang menarik di punden Mbah Rojo terdapat tinggalan masa kuno. Sejak dulu, di sana terdapat sebuah lumpang batu. Sayangnya tidak diketahui, lumpang batu itu berasal dari masa apa karena belum pernah diperiksa pihak yang berwajib dengan penelitian uji karbon untuk menunjukkan perkiraan usianya. Sayangnya lagi kini benda itu sudah tak utuh, alias pecah jadi dua.
“Dulu utuh, tetapi sekarang sudah pecah menjadi dua. Lumpangnya terbiar begitu saja, di alam terbuka. Tak ada cungkupnya atau atapnya,” tegas Abdul Karim. “Posisinya di tengah sawah. Kalau mau ke sana, motor diparkir di pinggir jalan, terus jalan lewat pematang. Rencananya akan dipaving, agar kalau ruwat desa, bisa datang ke sana secara beramai-ramai,” lanjutnya.
Posisi Mbah Rojo bagi Cangkring Turi lumayan menarik. Hal itu karena ada keyakinan jika ingin menjadi lurah desa tersebut tawassulnya ke sana. Bila suatu ketika kandidat ‘didatangi’ oleh mbah yang dikenal penyabar dan bijaksana ini, dimungkinkan orang bersangkutan yang bakal menjadi lurah desa tersebut. Selain itu, di Cangkring Turi terdapat tradisi ruwat desa yang digelar tiap tahun. Ruwat itu diadakan di balai desa dengan nanggap wayang kulit purwo. Lakon yang dipih pun khusus ada dua, yaitu “Seno Babat Alas Alas” dan “Mudune Wahyu”.
Terkait dengan pilihan lakon dan nama si mbah, saya kok curiga, bahwa ia bukan dari kalangan kebanyakan. Namun, tentu saja, saya tak berani berspekulasi terlalu jauh. 
Segitu aja dulu.

Sumber: Mashuri Alhamdulillah

Terima kasih sudah baca, semoga kita selalu diberikan kebaikan. Amiin
Salam, 
infospek.

Infospek.com 22:07 Admin Bandung Indonesia

LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI

Posted by Infospek.com on Friday, 6 October 2017
Iklan Banner

LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI

Dilihat sekilas dari nama desa, Cangkring Turi, kecamatan Prambon, memang tak menunjuk pada sebuah tempat yang tercatat sebagai pusat pada masa kuno. Hal itu karena toponim desanya berakar dari nama pepohonan yang dominan di sana, sebagaimana nama desa-desa di Sidoarjo kebanyakan. Namun, siapa sangka di sebuah punden desa terdapat sebuah benda purbakala, berupa lumpang batu dari zaman kuno. Meski belum terdeteksi kesejarahannya, tapi memiliki kebermaknaan menarik di desa tersebut.
Abdul Karim Darsono, kepala desa setempat menyatakan, sebagaimana nama desa Cangkring Turi, pedukuhannya pun terdiri dari dua, yaitu dusun Cangkring dan Turi. Asal-usul desa pun tak jauh beda dengan nama desannya. Dinamakan dusun Cangkring, karena di tempat itu dulu tumbuh banyak pohon cangkring. Begitu pula dusun Turi, karena di tempat itu dulu begitu banyak pohon Turi. "Desa Cangkring Turi itu gabungan di antara keduanya,” tegasnya.
Ia tidak tahu sejak kapan desa itu ada dan dinamakan demikian. Hanya saja, menurutnya, keberadaan desanya memang tidak bisa dilepaskan dari peran sing babat alas desa. Masing-masing dusun memiliki punden yang dianggap keramat warga. Punden dusun Cangkring bernama Mbah Wareng, sedangkan Punden dusun Turi namanya Mbah Rojo.
“Meski namanya Mbah Rojo tetapi beliau itu perempuan. Mbah Wareng laki-laki,” terang Abdul Karim.
Meski memiliki nama, tetapi jangan dibayangkan bahwa punden tersebut berupa makam. Punden itu berupa genengan di tengah sawah yang tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Saya pun berpikir sembilan kali untuk merambahnya karena motor saya kinyis-kinyis. Ehm ehm. Adapun ihwal asal-usul mereka, Abdul Karim tidak tahu menahu. Sejarahnya demikian kabur. “Pantesnya dulu dari mana begitu saja. Kami tidak tahu beliau dari Jenggala, Majapahit, Singasari atau Mataram,” tegas Abdul Karim.
Yang menarik di punden Mbah Rojo terdapat tinggalan masa kuno. Sejak dulu, di sana terdapat sebuah lumpang batu. Sayangnya tidak diketahui, lumpang batu itu berasal dari masa apa karena belum pernah diperiksa pihak yang berwajib dengan penelitian uji karbon untuk menunjukkan perkiraan usianya. Sayangnya lagi kini benda itu sudah tak utuh, alias pecah jadi dua.
“Dulu utuh, tetapi sekarang sudah pecah menjadi dua. Lumpangnya terbiar begitu saja, di alam terbuka. Tak ada cungkupnya atau atapnya,” tegas Abdul Karim. “Posisinya di tengah sawah. Kalau mau ke sana, motor diparkir di pinggir jalan, terus jalan lewat pematang. Rencananya akan dipaving, agar kalau ruwat desa, bisa datang ke sana secara beramai-ramai,” lanjutnya.
Posisi Mbah Rojo bagi Cangkring Turi lumayan menarik. Hal itu karena ada keyakinan jika ingin menjadi lurah desa tersebut tawassulnya ke sana. Bila suatu ketika kandidat ‘didatangi’ oleh mbah yang dikenal penyabar dan bijaksana ini, dimungkinkan orang bersangkutan yang bakal menjadi lurah desa tersebut. Selain itu, di Cangkring Turi terdapat tradisi ruwat desa yang digelar tiap tahun. Ruwat itu diadakan di balai desa dengan nanggap wayang kulit purwo. Lakon yang dipih pun khusus ada dua, yaitu “Seno Babat Alas Alas” dan “Mudune Wahyu”.
Terkait dengan pilihan lakon dan nama si mbah, saya kok curiga, bahwa ia bukan dari kalangan kebanyakan. Namun, tentu saja, saya tak berani berspekulasi terlalu jauh. 
Segitu aja dulu.

Sumber: Mashuri Alhamdulillah

Terima kasih sudah baca, semoga kita selalu diberikan kebaikan. Amiin
Salam, 
infospek.

iklan

Terima Kasih sudah membaca LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI. Share jika Bermanfaat !

Previous
Newer Post
Next
Older Post

Subscribe to: Post Comments (Atom)

Loading...

Popular Posts

  • KENAPA MALAM JUMAT LEGI ISTIMEWA ?
  • CERITA DEWASA +18
  • LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI
  • MEROKOK ITU TIDAK BERBAHAYA, ANDA WAJIB BACA
  • Sosiologi Bahasa : Batasan Bahasa
  • YANG MUDA WAJIB BERKARYA
  • Siapa Albert Camus sebenarnya ?
  • BAHAYA MANDI DI TIGA WAKTU INI - WAJIB TAHU
  • Ciri-ciri Pemerlain Bahasa Manusia
  • TEMPAT PALING KERING DI DUNIA - INFOSPEK.COM

"Sebuah blog pemula yang belajar menuangkan suatu Ilmu Pegetahuan -- Tutorial, Tentang Sejarah, Ilmu Sederhana dll"

KATEGORI POSTING

Artikel Bahasa (2) FENOMENA ALAM (1) KESEHATAN (2) MOTIVASI (2) TAHUKAH KAMU? (8)

Blog Archive

  • March (1)
  • December (3)
  • October (4)
  • September (2)

Copyright © Infospek. All rights reserved.

↑