LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI
Dilihat
sekilas dari nama desa, Cangkring Turi, kecamatan Prambon, memang tak
menunjuk pada sebuah tempat yang tercatat sebagai pusat pada masa kuno.
Hal itu karena toponim desanya berakar dari nama pepohonan yang dominan
di sana, sebagaimana nama desa-desa di Sidoarjo kebanyakan. Namun, siapa
sangka di sebuah punden desa terdapat sebuah benda purbakala, berupa
lumpang batu dari zaman kuno. Meski belum terdeteksi kesejarahannya, tapi memiliki kebermaknaan menarik di desa tersebut.
Abdul Karim Darsono, kepala desa setempat menyatakan, sebagaimana nama
desa Cangkring Turi, pedukuhannya pun terdiri dari dua, yaitu dusun
Cangkring dan Turi. Asal-usul desa pun tak jauh beda dengan nama
desannya. Dinamakan dusun Cangkring, karena di tempat itu dulu tumbuh
banyak pohon cangkring. Begitu pula dusun Turi, karena di tempat itu
dulu begitu banyak pohon Turi. "Desa Cangkring Turi itu gabungan di
antara keduanya,” tegasnya.
Ia tidak tahu sejak kapan desa itu
ada dan dinamakan demikian. Hanya saja, menurutnya, keberadaan desanya
memang tidak bisa dilepaskan dari peran sing babat alas desa.
Masing-masing dusun memiliki punden yang dianggap keramat warga. Punden
dusun Cangkring bernama Mbah Wareng, sedangkan Punden dusun Turi namanya
Mbah Rojo.
“Meski namanya Mbah Rojo tetapi beliau itu perempuan. Mbah Wareng laki-laki,” terang Abdul Karim.
Meski memiliki nama, tetapi jangan dibayangkan bahwa punden tersebut
berupa makam. Punden itu berupa genengan di tengah sawah yang tidak bisa
dijangkau dengan kendaraan bermotor. Saya pun berpikir sembilan kali
untuk merambahnya karena motor saya kinyis-kinyis. Ehm ehm. Adapun ihwal
asal-usul mereka, Abdul Karim tidak tahu menahu. Sejarahnya demikian
kabur. “Pantesnya dulu dari mana begitu saja. Kami tidak tahu beliau
dari Jenggala, Majapahit, Singasari atau Mataram,” tegas Abdul Karim.
Yang menarik di punden Mbah Rojo terdapat tinggalan masa kuno. Sejak
dulu, di sana terdapat sebuah lumpang batu. Sayangnya tidak diketahui,
lumpang batu itu berasal dari masa apa karena belum pernah diperiksa
pihak yang berwajib dengan penelitian uji karbon untuk menunjukkan
perkiraan usianya. Sayangnya lagi kini benda itu sudah tak utuh, alias
pecah jadi dua.
“Dulu utuh, tetapi sekarang sudah pecah
menjadi dua. Lumpangnya terbiar begitu saja, di alam terbuka. Tak ada
cungkupnya atau atapnya,” tegas Abdul Karim. “Posisinya di tengah sawah.
Kalau mau ke sana, motor diparkir di pinggir jalan, terus jalan lewat
pematang. Rencananya akan dipaving, agar kalau ruwat desa, bisa datang
ke sana secara beramai-ramai,” lanjutnya.
Posisi Mbah Rojo bagi Cangkring Turi lumayan menarik. Hal itu karena
ada keyakinan jika ingin menjadi lurah desa tersebut tawassulnya ke
sana. Bila suatu ketika kandidat ‘didatangi’ oleh mbah yang dikenal
penyabar dan bijaksana ini, dimungkinkan orang bersangkutan yang bakal
menjadi lurah desa tersebut. Selain itu, di Cangkring Turi terdapat
tradisi ruwat desa yang digelar tiap tahun. Ruwat itu diadakan di balai
desa dengan nanggap wayang kulit purwo. Lakon yang dipih pun khusus ada
dua, yaitu “Seno Babat Alas Alas” dan “Mudune Wahyu”.
Terkait
dengan pilihan lakon dan nama si mbah, saya kok curiga, bahwa ia bukan
dari kalangan kebanyakan. Namun, tentu saja, saya tak berani
berspekulasi terlalu jauh.
Segitu aja dulu.
Sumber: Mashuri Alhamdulillah
Terima kasih sudah baca, semoga kita selalu diberikan kebaikan. Amiin
Salam,
infospek.
Terima Kasih sudah membaca LUMPANG KUNO DI TENGAH SAWAH DESA CANGKRING TURI. Share jika Bermanfaat !